BENER MERIAH – Hampir dua pekan pascabencana alam yang melanda Kabupaten Bener Meriah, kondisi darurat masih membayangi pelayanan kesehatan di RSUD Munyang Kute Redelong. Rumah sakit rujukan utama di wilayah tersebut kini menghadapi krisis serius: pasokan oksigen medis habis total sejak sepekan setelah bencana.
Terputusnya akses distribusi menuju Lhokseumawe melalui jalur KKA menjadi penyebab utama. Hingga Jumat (12/12/2025), jalur vital tersebut masih lumpuh akibat longsor parah di kawasan Burni Pase dan Camp, ditambah perbaikan jalan yang membuat akses hanya bisa dibuka secara terbatas.
Di tengah keterbatasan itu, manajemen RSUD Munyang Kute Redelong mengambil langkah berani. Atas arahan Direktur RSUD, Kepala Bidang Pelayanan Medis bersama Kepala Bidang Penunjang memutuskan untuk menjemput langsung oksigen ke luar daerah, meski harus menghadapi medan yang ekstrem.
Tim Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit (IPSRS) pun diturunkan. Mereka harus berjalan kaki menembus jalur terjal yang tertutup lumpur dan longsoran tanah, di bawah hujan gerimis, dengan kondisi jalan buka-tutup karena alat berat masih bekerja membersihkan material longsor.
Setibanya di perbatasan wilayah Lhokseumawe, tepatnya di kawasan Camp, tim akhirnya bertemu dengan pihak penyedia oksigen. Demi keselamatan dan keterbatasan akses, diputuskan hanya membawa 10 tabung oksigen kecil yang dapat dipikul satu per satu melewati jalur sulit menuju Redelong.
Oksigen tersebut menjadi nyawa bagi pelayanan medis di RSUD Munyang Kute Redelong. Pasokan ini sangat dibutuhkan untuk pasien sesak napas, tindakan operasi, hingga perawatan pasien di ruang ICU. Meski rumah sakit memiliki 10 unit oksigen konsentrator, alat tersebut tidak sepenuhnya mampu menggantikan fungsi oksigen tabung yang terhubung dengan sistem central oxygen rumah sakit.
“Oksigen saat ini sangat kami butuhkan untuk pelayanan pasien, terutama pasien sesak yang tidak seluruhnya dapat tercover oleh mesin oksigen konsentrator. Tanpa oksigen tabung, pelayanan operasi dan ICU sangat terbatas,” ujar dr. Busyra Wanranto, Sp.FM.
Pihak RSUD Munyang Kute Redelong berharap adanya percepatan pembukaan akses jalan serta dukungan dari berbagai pihak, agar distribusi logistik kesehatan kembali lancar dan pelayanan medis bagi masyarakat terdampak bencana dapat berjalan optimal.
Di tengah lumpur dan longsor, perjuangan tenaga kesehatan ini menjadi potret nyata bahwa kemanusiaan tetap berjalan, meski dihadang keterbatasan dan risiko.





