Bener Meriah – Kabupaten Bener Meriah, Aceh, punya dua gunung dengan cerita yang jauh berbeda. Gunung Bur Ni Telong masih berstatus Level II atau Waspada, sementara Gunung Geureudong justru mulai dilirik sebagai destinasi wisata alam baru.

Kondisi ini jadi tantangan tersendiri bagi Pemkab Bener Meriah. Di satu sisi, potensi wisata pegunungan terbuka lebar. Di sisi lain, aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan tak boleh dikesampingkan.

Bur Ni Telong Sempat Naik Status Jadi Siaga

Gunung Bur Ni Telong sempat mengalami peningkatan aktivitas pada akhir 2025. Tepatnya pada 30 Desember 2025, status gunung ini dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Merujuk laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, kenaikan status itu dipicu oleh meningkatnya aktivitas kegempaan. Dalam rentang waktu pukul 20.43 WIB sampai 22.45 WIB, tercatat tujuh kali gempa yang bisa dirasakan.

Selain itu, terekam pula tujuh gempa vulkanik dangkal, 14 gempa vulkanik dalam, satu gempa tektonik lokal, dan satu gempa tektonik jauh.

Naiknya status tersebut membuat warga di sekitar kawasan gunung diminta lebih waspada. Pemerintah daerah pun turut menyiapkan langkah penanganan bagi warga yang terdampak.

Badan Geologi kala itu menyebut ada sejumlah potensi bahaya yang mengintai, di antaranya kemungkinan erupsi freatik, erupsi yang dipicu gempa tektonik, hingga ancaman gas vulkanik di sekitar fumarol dan solfatara.

Kabar baiknya, status Bur Ni Telong berangsur turun kembali ke Level II (Waspada) pada 3 Januari 2026 setelah aktivitas kegempaan mereda.

Meski begitu, kewaspadaan tak lantas dihentikan. Pada Juni 2026, PVMBG memperkecil radius zona rekomendasi dari semula tiga kilometer menjadi dua kilometer dari kawah. Status Bur Ni Telong sendiri tetap bertahan di Level II atau Waspada hingga kini.

Artinya, siapa pun yang ingin mengembangkan aktivitas wisata di kawasan ini tetap wajib mengacu pada informasi dan rekomendasi resmi dari pihak berwenang.

Geureudong, Gunung dengan Savana dan Danau di Puncak

Berbeda dengan Bur Ni Telong, Gunung Geureudong justru menyimpan cerita yang lebih menggembirakan. Gunung yang juga berada di kawasan Bener Meriah ini mulai menarik perhatian karena punya sejumlah bentang alam yang dinilai potensial untuk dikembangkan sebagai wisata alam.

Salah satu warga yang terlibat langsung dalam pengelolaan kawasan tersebut adalah Iin, Ketua LPHK Bukit Mulie, Kecamatan Timang Gajah pada sabtu 01/08/2026.

Menurut Iin, Gunung Geureudong menyimpan sederet daya tarik, mulai dari hamparan savana hingga danau kecil di kawasan puncaknya.

“Geureudong memiliki potensi yang luar biasa. Mempunyai Savana Sawi, Gunung Lumut dan savana rumput di puncaknya. Terakhir, di atas ada danau kecil,” kata Iin.

Ia menyebut masyarakat sekitar kini tengah berupaya meningkatkan akses menuju kawasan tersebut.

“Sekarang kami sedang memaksimalkan, sepeda motor sudah sampai ke rumah pohon,” ujarnya.

Tak hanya membuka akses, warga juga aktif menjaga kelestarian kawasan.

“Hutannya masih asri,” kata Iin. “Kami sering lakukan pembersihan dan juga reboisasi di gunung tersebut,” sambungnya.

Keterlibatan warga lokal disebut jadi salah satu kunci penting dalam pengembangan kawasan wisata pegunungan. Selain ikut menjaga kawasan, masyarakat sekitar juga berpeluang meraup manfaat ekonomi jika aktivitas wisata di sana berkembang.

Kendati demikian, pengembangan itu tetap memerlukan pengelolaan yang matang agar lonjakan kunjungan tidak sampai merusak kondisi hutan dan lingkungan sekitarnya.

Mulai Dilirik Komunitas Pendaki

Potensi Gunung Geureudong rupanya juga sudah mulai menarik perhatian kalangan pencinta alam.

Pada 4-8 Juli 2026, UKM Pencinta Alam Leuser dari Universitas Syiah Kuala menggelar ekspedisi pendakian melalui jalur Desa Gemasih, Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Ekspedisi yang berlangsung selama lima hari empat malam itu digelar untuk mengeksplorasi jalur pendakian sekaligus memperkenalkan potensi wisata alam Gunung Geureudong ke publik yang lebih luas.

Namun, meningkatnya perhatian terhadap Geureudong juga membawa “pekerjaan rumah” baru. Jika kawasan ini benar-benar dikembangkan jadi destinasi wisata, sejumlah aspek wajib dipersiapkan sejak dini, mulai dari konservasi, pengelolaan sampah, jalur pendakian, kapasitas kunjungan, hingga keselamatan pengunjung.

Pengembangan wisata ke depan juga diharapkan tetap melibatkan masyarakat sekitar, sehingga manfaat ekonominya tidak hanya dinikmati pihak dari luar kawasan.

Potensi dan Risiko Harus Jalan Beriringan

Bur Ni Telong dan Geureudong memperlihatkan dua wajah pegunungan Bener Meriah yang saling melengkapi.

Bur Ni Telong jadi pengingat bahwa kawasan gunung menyimpan risiko alam yang harus terus dipantau. Sementara itu, Geureudong menunjukkan bahwa bentang alam yang masih relatif terjaga bisa menjadi sumber potensi wisata sekaligus ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, pengembangan wisata pegunungan di Bener Meriah dinilai tidak cukup hanya dengan membuka akses dan gencar berpromosi. Keselamatan pengunjung, perlindungan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat mesti jadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan.

Bagi Bener Meriah, tantangan besarnya kini adalah bagaimana menjadikan pegunungan sebagai kekuatan pariwisata tanpa mengabaikan karakter alam dan risiko yang menyertainya.

Sebab, daya tarik sebuah gunung sebagai destinasi wisata justru lahir dari alamnya yang masih terjaga. Begitu kelestarian dan keselamatan diabaikan, potensi itu bisa berbalik menjadi persoalan baru.